Kamis, 01 Oktober 2015

Tentang Malam

Kamu pasti tahu dan mengalami hidup di tengah malam, kalau belum tahu berarti kamu belum lahir. Di sini dan bersama ini aku mencoba menceritakan sesuatu yang bisa dibilang absurd tentang Malam, bukan tentang kamu dan dia.

Malam adalah kegelapan jika tak ada listrik atau kolaborasi bulan dan bintang di atas sana. Malamlah yang selalu setia menemanimu begadang meskipun tak ada kopi dan rokok, tapi jangan salahkan malam jika kamu merasa ngantuk dan lapar bila bersamanya, mungkin karena kamu tidak minum Bodrex dulu atau belum makan nasi dari pagi.

Setiap orang pasti setuju jika kesunyian terbaik itu berada di tengah-tengah malam, bahkan para pendo'a sejati akan selalu memanjatkan do'anya di waktu sepertiga malam.

Aku dan malam mungkin tak bisa dipisahkan, begitupun kamu. Kita semua selalu melewati malam setiap hari, meski kadang kamu lupa karena ketiduran. Coba dengarkan suara pesta pora binatang-binatang kecil di waktu malam, mereka selalu bernyanyi untuk menghiasi kesunyian, membuat kegelapan malam semakin terasa sunyi, bahkan mencekam.

Namun kini, aku merasa sedih dengan gangguan beberapa suara kepada malam, seperti suara televisi, radio, kendaraan, dan suara kipas angin di kamarku, ada juga suara kentut yang bersahutan antar tetangga. Mungkin itu disebabkan aku tinggal di pinggiran kota, bukan di puncak gunung atau di pedesaan yang jauh dari jalan raya dan tak ada listrik. Aku selalu berharap jadi bagian penduduk desa, atau jadi penjaga gunung bila ada yang mau memberi gaji setiap akhir bulan.

Sepertinya aku harus segera menutup cerita ini, karena aku mulai tergoda oleh rasa ngantuk, dan malam juga akan segera bersembunyi karena tukang nasi uduk mulai mengeluarkan dagangannya, pertanda pagi segera menjelang. Dan ingatlah, jangan bertanya kepadaku tentang indahnya siang, karena aku selalu tidur sampai siang bolong, bahkan bisa menembus sore.

Semoga kita bisa selalu bahagia bersama malam, aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar